Pemeriksaan kanker payudara berperan penting dalam mendeteksi perubahan sejak dini untuk membantu dokter memberikan penanganan sesuai kondisi. Pemeriksaan ini tidak hanya penting bagi mereka yang telah memiliki gejala tertentu, tetapi juga bagi kamu yang belum merasakan keluhan apa pun
Dengan melakukan pemeriksaan secara berkala, kamu bisa lebih memahami kondisi tubuh lebih baik dan mengambil tindakan yang tepat apabila ditemukan perubahan. Namun, sebelum itu, mari kenali dan pahami lebih dulu beberapa jenis pemeriksaan kanker payudara berikut ini.
1. SADARI: Pemeriksaan Mandiri di Rumah
SADARI (Periksa Payudara Sendiri) adalah langkah awal yang sederhana namun penting dalam menjaga kesehatan payudara. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sendiri di rumah tanpa alat khusus. Cara melakukannya adalah sebagai berikut:
- Berdiri di depan cermin dan amati bentuk serta tekstur kulit payudara.
- Raba seluruh area payudara dan ketiak dengan lembut.
- Perhatikan apakah ada benjolan, perubahan bentuk, atau rasa nyeri yang tidak biasa.
Waktu terbaik untuk melakukan SADARI adalah 7-10 hari setelah menstruasi selesai. Bagi wanita yang sudah menopause, pilih satu tanggal yang tetap setiap bulan untuk melakukan pemeriksaan.
Jika kamu menemukan perubahan yang mencurigakan pada payudara, segera konsultasikan dengan dokter. Perlu diingat, SADARI bukan metode diagnosis, melainkan langkah awal untuk deteksi dini kanker payudara.
2. Pemeriksaan Medis Kanker Payudara
Selain pemeriksaan mandiri, langkah penting lain untuk mendeteksi kanker payudara adalah melalui prosedur medis.
Lantas, pemeriksaan apa yang bisa dijalani untuk mengetahui kanker payudara secara medis? Berikut adalah beberapa prosedur medis untuk melakukan pemeriksaan kanker payudara:
1. Tes Genetik
Pemeriksaan kanker payudara melalui prosedur medis yang pertama adalah dengan tes genetik kanker payudara. Tes kanker payudara ini mendeteksi mutasi gen seperti BRCA1 dan BRCA2 yang meningkatkan risiko kanker payudara.
Pemeriksaan ini biasanya direkomendasikan untuk seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara atau kanker ovarium. Melalui tes ini, dokter dapat menilai faktor risiko genetik dan memberikan rekomendasi langkah pencegahan yang lebih tepat.
Tes genetik kanker payudara biasanya dilakukan dengan mengambil sampel darah atau air liur, yang kemudian dianalisis di laboratorium. Namun, tes ini tidak mendiagnosis kanker secara langsung, melainkan membantu menilai risiko penyakit tersebut berkembang pada tubuh seseorang.
2. Mammografi
Mammografi menggunakan sinar-X dosis rendah untuk mendeteksi perubahan jaringan payudara yang tidak terlihat secara fisik. Pemeriksaan ini efektif untuk menemukan tanda-tanda awal kanker, seperti kalsifikasi atau benjolan kecil.
Direkomendasikan bagi wanita dengan risiko tinggi, mammografi membantu dokter menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti biopsi.
3. MRI Payudara
MRI payudara adalah pemeriksaan lanjutan yang menggunakan teknologi medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar detail jaringan payudara. Prosedur ini membantu mendeteksi kelainan yang mungkin tidak terlihat jelas pada mammografi maupun USG.
Selain untuk deteksi dini, MRI payudara menilai sejauh mana penyebaran kanker dan memantau respons terhadap terapi. Hasil gambar yang dihasilkan sangat sensitif sehingga dokter dapat mengevaluasi kondisi pasien dengan lebih akurat.
4. USG Payudara
USG menggunakan gelombang suara untuk menampilkan kondisi jaringan payudara. Prosedur ini cocok untuk wanita dengan jaringan payudara padat, ibu hamil, atau menyusui karena tidak menggunakan radiasi.
USG membantu membedakan antara benjolan padat dan kista, dan biasanya digunakan sebagai pemeriksaan lanjutan setelah SADARI.
5. PET Scan
PET scan (Positron Emission Tomography) adalah prosedur terbaru pencitraan medis yang menggunakan zat radioaktif dalam jumlah kecil untuk membantu dokter melihat aktivitas sel-sel di dalam tubuh.
Berbeda dengan pemeriksaan gambar biasa, PET scan dapat menunjukkan bagaimana sel berfungsi sehingga membantu mendeteksi lokasi sebaran sel-sel kanker yang aktif di dalam tubuh.
Pada kasus kanker payudara, PET scan dapat membantu dokter melihat apakah kanker sudah menyebar ke organ lain, seperti tulang atau kelenjar getah bening.
6. Biopsi
Pada beberapa kondisi, dokter mungkin menyarankan biopsi (pengambilan sampel jaringan payudara) untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sampel jaringan tersebut kemudian diperiksa di laboratorium agar dokter mendapatkan hasil yang tepat dan akurat.
Biopsi dapat dilakukan dengan berbagai teknik, seperti biopsi jarum halus, biopsi jarum inti, atau biopsi bedah, tergantung kondisi dan rekomendasi dokter.
Prosedur ini biasanya dianjurkan apabila hasil mammografi, USG, atau MRI menunjukkan area yang mencurigakan dan memerlukan analisis lebih mendalam.
Kesimpulan
Deteksi dini adalah kunci penanganan kanker payudara yang efektif. Dengan memahami dan menjalani pemeriksaan secara rutin, kamu dapat menjaga kesehatan payudara dan meningkatkan peluang kesembuhan.
Jika kamu merasakan adanya perubahan atau keluhan pada payudara, segera konsultasikan dengan dokter. Kamu dapat melakukan Pemeriksaan Klinis di Kaiser Cancer Center bersama dokter dan tenaga medis profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan akurat.
Yuk, jaga kesehatan payudaramu mulai hari ini bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.







